Gaya hidup sehat menjadi gaya hidup baru. Pandemi corona covid-19 seperti memberi kesempatan bumi untuk sejenak bernafas. Isu pemanasan global yang bergaung dan hanya jadi slogan, akhirnya diselesaikan semesta sendiri dengan caranya.

Sejak terjadinya pandemi corona covid-19, terjadi penurunan emisi carbon di berbagai belahan dunia secara bervariasi antara 5-35 persen. Angka ini diperkirakan terus menurun jika gaya hidup mobile juga berkurang.

Corona Covid-19 akhirnya juga memaksa UMKM di Indonesia untuk menciptakan produk-produk yang low carbon. Kebutuhan masker sebagai penangkal dan pelindung diri bagi orang sehat akhirnya memanfaatkan kain seadanya. Termasuk tekstil printing dengan pewarna sintetis yang justru membahayakan pernafasan.

Berdasarkanpenelitian dr. Ova Emilia, M.Med,Ed., PhD., SpOG(K), dalam pewarna tekstil terdapat ikatan dengan klorin ( Cl ). Ini adalah senyawa anorganik yang reaktif dan juga berbahaya. Rekasi untuk mengikat ion klorin disebut sebagai sintesis zat warna.

“Biasanya menggunakan reaksi Frield- Crafts untuk mensintesis zat warna seperti triarilmetana dan xentana. Kemudian reaksi antara ftalat anhidrida dengan resorsinol yang ditambahkan seng klorida menghasilkan fluoresein sehingga warna lebih glowing,” katanya.

Bahaya Pewarna Sintetis

Dijelaskan bahwa pewarna tekstil bersifat karsinogenik kuat. Ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Mulai dari iritasi bila terkena mata, kulit bahkan saluran pernafasan. Senyawa klorin adalah senyawa yang radikal, senyawa yang tidak stabil.

Klorin juga tergolong senyawa halogen yang bersifat mudah bereaksi. Karena merupakan senyawa radikal, maka ia akan berusaha mencapai kestabilan saat memasuki tubuh. Usaha itu berupa perikatan dengan senyawa-senyawa dalam tubuh. Inilah yang memicu kanker pada manusia.

“Dalam suhu ruang, klorin berbentuk sebagai gas yang bersifat racun. Ini kalau terhirup akan menimbulkan iritasi sistem pernafasan. Bila klorin dihirup pada konsentrasi di atas 30ppm, klorin mulai bereaksi dengan air dan sel-sel yang berubah menjadi asam klorida (HCl) dan asam hipoklorit (HClO),” kata Ova Emillia.

Tawaran Kearifan Lokal

Atas dasar itulah, maka pelaku UMKM khususnya Batik kemudian menggagas masker kain untuk orang sehat yang berbahan pewarna alam. Edhie Prayitno Ige dari Sanggar Batik Semarang 16 menjelaskan bahwa pewarna alami adalah pewarna yang memanfaatkan potenmsi alam dari tumbuhan.

“Misalnya untuk warna merah menggunakan kayu Tingi. Berdasar penelitian, kayu ini memiliki kadar tanin 70,91% dan kadar non tanin 10,63%. Tanin kayu tingi termasuk golongan condensed tannin tipe procyanidin,” kata Edhie.

Absorpsi atau penyerapan larutan tingi berada pada spektrum panjang gelombang maksimum 490 nm. Data spektrum FTIR tanin tingi menunjukkan adanya gugus hydroksil (ⱱO-H; ⱱN-H) pada area (3467,418-3057,025) cm-1, gugus aromatik (ⱱC-H) pada area 2875,733 cm-1, ⱱC=O (ester group in tanned material) pada area (1747,442-1612,422) cm-1, ⱱ-OH; R-COO- pada area 1444,626 cm-1 dan ⱱ(SO4 )2-;R-SO3 ; R-SO3 H pada area (1112,823-1062,729) cm-1.

Fungsi tanin adalah mampu menjadi pelindung tanaman ketika masa pertumbuhan dari bagian tertentu tanaman. Selain itu bisa berfungsi sebagai adstrigensia pada GI dan kulit.

“Bagi manusia, ia akan berfungsi untuk mengendapkan protein sehingga digunakan sebagai antiseptik. Selain itu protein yang mengendap itu akan sangat kuat melawan serangan virus,” katanya.

Fungsi lain adalah antidotum alias keracunan alkaloid.

Itu baru kayu Tingi yang menghasilkan warna merah. Masih ada pewarna alam lain yang memiki kandunganberbeda namun sangat bermanfaat bagi tubuh. Misalnya buah jelawe, indigovera, kayu secang, kayu mahoni.

“Bahan-bahan alami ini jelas bisa berfungsi sebagai aromatherapy yang menenangkan sekaligus meningkatkan sistem imunitas. Belum lagi yang terhirup juga bermanfaat untuk menangkal senyawa radikal, dibanding pewarna sintetis,” katanya.

Masker batik berbahan pewarna alam ini, memang diproduksi secara khusus, jauh hari sebelum corona covid-19 menjadi pandemi. Masker yang diberi pelapis dan bisa diisi kertas nanofilter ini, biasanya dipakai mereka yang memiliki mobilitas tinggi di udara terbuka. [][][]

Tulisan ini pernah dimuat di gambangsemarang.net, 07 April 2020 dengan judul yang sama.