Mari bercerita tentang Semarang dalam peta batik Indonesia.

Semarang memiliki persinggungan erat dengan tradisi membatik. Dalam penelitian sejarawan Universitas Diponegoro, Dewi Juliati, eksistensi Semarang dalam peta perbatikan ditandai adanya kampung kuno, bernama Kampung Batik.

“Dalam penelitian saya, Kampung Batik itu dulunya menjadi pusat produksi batik sejak zaman kerajaan. Namun tradisi membatik itu hilang bersama pembumihangusan sentra ekonomi Semarang oleh Jepang,” kata Dewi.

Batik Semarang sempat mengalami pasang surut hingga munculnya Sanggar Batik Semarang 16 di tahun 2004. Sanggar inilah yang kemudian menjadi semacam ‘bola salju’ kreatifitas. Mereka yang sempat belajar atau bekerja di sanggar ini, diasah untuk mandiri dan memproduksi sendiri. Sanggar ini selain memproduksi batik dengan motif karya sendiri, juga menggelar serangkaian pelatihan di masyarakat maupun sekolah-sekolah.

Pendiri sanggar, Umi S Adisusilo menuturkan pendirian sanggar itu memang dimaksudkan agar tradisi membatik lebih membumi. Bukan hanya mengenakan pakaian batik, namun juga memproduksi.

“Ketika Wali Kota Semarang dijabat bapak Sukawi Sutarip dukungan penuh diberikan, bukan hanya untuk produksi, namun juga riset lainnya,” kata Umi, Selasa (2/10/2019) kepada Liputan6.com.

Survivalitas kreatif Batik Semarang berbasis riset. Melibatkan budayawan, seniman, akademisi, wartawan dan mahasiswa, riset dilakukan untuk memikirkan orisinalitas motif dan survivalitas produksi.

“Kami mencoba menciptakan regenerasi yang kuat. Saya sendiri saat ini sudah tak ada di struktur sanggar batik Semarang 16,” kata Umi.


Tradisi Berbalut Sejarah

Sejarah Batik Semarang sangat panjang. Diawali sebuah cerita yang termuat dalam Serat Kandhaning Ringit Purwo naskah KGB No.7, pada tahun 1476 Ki Pandan Arang I telah menetap di Pulau Tirang. Peristiwa itu ditandai dengan candra sengkala Awak Terus Cahya Jati.

Kemudian dikisahkan juga bahwa Ki Pandan Arang membuka tempat pemukiman baru di daerah pegisikan (pantai). Menurut Tradisi Semarang, tempat itu diberi nama Bubakan yang berasal dari kata “bubak” yang berarti membuka sebidang tanah dan menjadikannya sebagai tempat pemukiman.

Di tempat ini Ki Pandan Arang I menjabat sebagai juru nata (pejabat kerajaan) dibawah kekuasaan kerajaan Demak. Karena kawasan Bubakan menjadi tempat tinggal sang juru nata, maka tempat tersebut kemudian dikenal dengan Jurnatan.

Suatu hal yang lazim di jawa adalah bahwa di sekitar pusat-pusat kekuasaan kuno terdapat kampung-kampung (toponim) yang diberi nama sesuai dengan profesi atau mata pencaharian penduduknya.

Catatan yang ditulis Dewi Yuliati, peneliti dari Undip Semarang, menyebutkan pada awal abad ke-20, penduduk pribumi di Kota Semarang bermata pencaharian di sektor industri kerajinan. Bukti lain yang menunjukkan bahwa di Semarang pernah berkembang pesat industri kerajinan batik adalah laporan pemerintah kolonial Belanda tentang keberadaan industri di berbagai karasidenan di Jawa.

Tahun 1950-1960 Batik Semarang mengalami masa keemasannya. Namun memasuki tahun 1970an Produksi batik mulai menurun karena masuknya produksi tekstil impor. Batik Benar-benar jatuh pada tahun 1990-1998.

Keberadaan Batik Semarang sebelum tahun 1970 masih simpang siur pemberitaanya. Orang-orang yang peduli batik berupaya keras untuk mengenalkan identitas dan motif batik semarang melalui event dan seminar.


Semua Kalangan

Batik Semarang dipakai oleh semua kalangan, baik kelas bawah, menengah, maupun atas. Motifnya didominasi ornamen tetumbuhan atau semen dan lung-lungan, tetapi dalam bentuk sarung dengan hiasan tumpal. Di wilayah lain istilah ini biasa dikenal dengan nama kepala tumpal, pucuk rebung atau sorotan.

Manajer Operasional Sanggar Batik Semarang 16 Endah Purwanti menyebutkan tahun 1970-an adalah tahun dimana Batik Semarang mulai berbenah. Pada pertempuran 5 hari di Semarang, tentara Jepang membakar rumah-rumah penduduk di kampung-kampung di kota Semarang, salah satunya adalah kampung batik.

“Kegiatan membatik di kampung batik lumpuh atau terhenti,” kata Endah.

Di era 1970 itu ada sebuah perusahaan batik di Kampung Bugangan dengan nama Tan Kong Tien Batikkerij yang dimiliki Tan Kong Tien dan istrinya, Raden Ayu Dinartiningsih, salah satu keturunan Hamengku Buwono III dari Kesultanan Yogyakarta. Perusahaan batik Tan Kong Tien itu lalu diteruskan anaknya, Raden Ayu Sri Murdiyanti.

Dalam penelitian Dewi Yuliati, Sri Murdiyanti kemudian mendapat hak monopoli batik untuk wilayah Jawa Tengah dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia.

“Tahun 1970-an itu batik semarang mulai berbenah dengan munculnya Batikkerij Tan Kong Tien yang berjaya,” kata Dewi.

Puncak kebangkitan Batik Semarang terjadi tahun 2005, Sanggar Batik Semarang 16 menjadi pioner dan memberi pelatihan. Pemerintah Kota Semarang melalui Wali Kota Sukawi Sutarip meresmikan kebangkitan Batik Semarang.


Eksplorasi Motif Thematik

Dalam selembar kain yang dibatik, terdapat simbol-simbol yang berhubungan dengan nilai-nilai budaya tertentu. Simbol yang nampak tersebut dituangkan pada selembar kain dengan ragam hias berbeda. Batik Semarang sendiri tak luput dari perubahan itu.

Budi Purwanto, manajer kreatif Sanggar Batik Semarang 16 menyebutkan bahwa perubahan motif Batik Semarang dari tahun 1970-1998 tidak terjadi begitu saja. Perubahan merupakan hasil interaksi, kompromi, dan benturan budaya baik dari luar maupun dari dalam.

“Salah satunya adalah menjadikan motif lebih membumi dan muda agar bisa masuk pasar nasional ataupun internasional,” kata Budi.

Sanggar Batik Semarang 16 saat ini sukses menciptakan hampir 2.000 motif yang kesemuanya sudah mendapat sertifikat HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Motif-motif ini sangat khas Semarang dan tercipta melalui proses riset panjang.

“Kami juga mencoba mereproduksi motif karya Carolina Josephina von Franquemont yang aktif berproduksi pada dekade 1850-1860,” kata Budi.

Motif-motif Franquemont berciri warna lebih beragam namun menempatkan warna hijau sebagai ciri khas dan pola motif Eropa, Cina dan pesisir utara khususnya Madura dan pola dari keraton. Franquemont juga mengambil karakter dan atribut dongeng Eropa yang ditampilkan berulang pada badan kain batik.

“Ada juga motif Batik Oosterom karya van Ossterom pada abad 19 dengan pola rumit pada bagian papan dan kepalanya. Salah satunya motif pola sirkus yang dilengkapi dedaunan dan burung mirip phoenix,” kata Budi.


Menuju Konservasi

Motif karya asli sanggar Batik Semarang 16 yang kemudian banyak dicomot pengrajin lain meski sudah didaftarkan HAKI diantaranya Merak Jeprak, menggambarkan seekor burung merak yang sedang mengembangkan secara penuh untuk menunjukkan keindahannya. Motif Tugu Muda, Blekok Srondol, Asem Arang, hingga motif-motif modifikasi klasik dan modern semacam Ceplok Cattleya, Beras Wutah Rowosari, Sekar Jagad Semarangan, dan lain-lain.

Endah Purwanti menyebutkan bahwa pihaknya mempertahankan tradisi riset dengan melibatkan banyak pihak karena sedang diarahkan menuju lembaga konservasi Batik.

“Pemerintah dan banyak pihak lebih fokus ke hilir. Ke pemasaran. Tapi tak pernah berpikir sektor hulu, bagaimana menjaga agar pembuat canting tetap ada, tanaman-tanaman untuk pewarna alam dijaga. Nah kami mencoba menjaga dari hulu hingga hilir,” kata Endah.

Itulah sebabnya Sanggar Batik Semarang 16 membuat canting, cap, malam, dan eksplorasi kemungkinan-kemungkinan pewarna alam lainnya. Areal 3.000 meter persegi sebagian difungsikan untuk menanam tanaman bahan pewarna alam.

Secara periodik juga mengusung tema tertentu untuk motifnya. Misalnya tentang legenda kampung-kampung di Semarang, kuliner, tempat-tempat ikonik, cerita rakyat, bahkan falsafah hidup masyarakat Semarang.

“Di celah ini, kami berusaha mencipta motif batik lengkap dengan prosesnya agar memiliki rasa Semarang,” kata Endah. [][][]

artikel ini pernah dimuat di Liputan6.com, 2 Oktober 2019