Guna membumikan batik Semarang, sebuah sanggar batik didirikan di Semarang Jawa Tengah. Regenerasi pengrajin batik dirintis di tempat ini.

Semarang memiliki persinggungan erat dengan tradisi membatik. Batik Semarang sempat mengalami pasang surut hingga munculnya Sanggar Batik Semarang 16 pada 2004.

Sanggar inilah yang kemudian menjadi semacam ‘bola salju’ kreatifitas. Mereka yang sempat belajar atau bekerja di sanggar ini, diasah untuk mandiri dan memproduksi sendiri.

Selain memproduksi batik dengan motif karya sendiri, sanggar ini juga menggelar serangkaian pelatihan di masyarakat maupun sekolah-sekolah.

Sanggar Batik Semarang 16 regenerasi pengrajin batik (ANTV/Dadang Sungkawa)

Pendiri sanggar, Umi S Adisusilo menuturkan, keberadaan sanggar itu memang dimaksudkan agar tradisi membatik lebih membumi. Bukan hanya mengenakan pakaian batik, namun juga untuk memproduksi.

“Ketika Wali Kota Semarang dijabat Bapak Sukawi Sutarip, dukungan penuh diberikan, bukan hanya untuk produksi, namun juga riset lainnya,” kata Umi.

Berbasis Riset

Kreatifitas batik Semarang dibuat berbasis riset yang melibatkan budayawan, seniman, akademisi, wartawan dan mahasiswa. Riset dilakukan untuk memikirkan orisinalitas motif dan survivalitas produksi.

koleksi motif batik Semarang (ANTV/Dadang Sungkawa)

“Kami mencoba menciptakan regenerasi yang kuat. Saya sendiri saat ini sudah tak ada di struktur sanggar batik Semarang 16,” kata Umi.

Sudah Ada Sejak 1476

Sejarah Batik Semarang sangat panjang. Diawali sebuah cerita yang termuat dalam Serat Kandhaning Ringit Purwo naskah KGB Nomor 7 pada 1476 Ki Pandan Arang I telah menetap di Pulau Tirang. Peristiwa itu ditandai dengan candra sengkala Awak Terus Cahya Jati.

Kemudian dikisahkan juga bahwa Ki Pandan Arang membuka tempat permukiman baru di daerah pegisikan (pantai). Menurut tradisi Semarang, tempat itu diberi nama Bubakan yang berasal dari kata “bubak” yang berarti membuka sebidang tanah dan menjadikannya sebagai tempat permukiman.

Di tempat ini Ki Pandan Arang I menjabat sebagai juru nata (pejabat kerajaan) di bawah kekuasaan kerajaan Demak. Karena kawasan Bubakan menjadi tempat tinggal sang juru nata, maka tempat tersebut kemudian dikenal dengan Jurnatan.

Suatu hal yang lazim di Jawa adalah bahwa di sekitar pusat-pusat kekuasaan kuno terdapat kampung-kampung (toponim) yang diberi nama sesuai dengan profesi atau mata pencaharian penduduknya.

Batik Semarang lakukan riset dengan libatkan sejumlah kalangan (ANTV/Dadang Sungkawa)

Berdasarkan catatan yang ditulis Dewi Yuliati, peneliti dari Universitas Diponegoro Semarang, pada awal abad ke-20, penduduk pribumi di Kota Semarang bermata pencaharian di sektor industri kerajinan.

Bukti lain yang menunjukkan bahwa di Semarang pernah berkembang pesat industri kerajinan batik adalah laporan pemerintah kolonial Belanda tentang keberadaan industri di berbagai karasidenan di Jawa.

Tahun 1950-1960 Batik Semarang mengalami masa keemasannya. Namun memasuki tahun 1970an produksi batik mulai menurun karena masuknya produksi tekstil impor. Batik Semarang benar-benar jatuh pada tahun 1990-1998. Namun setelah mengalami pasang surut, akhirnya kembali bangkit dengan Sanggar Batik Semarang 16. [][][]

tulisan ini pernah dimuat di antvklik.com. 23 desember 2019